arj - 01 Oktober 2026 - 08:32
arj
-
01 Oktober 2026
-
08:32
Punya ide produk yang menurut kamu “INI BAKAL LAKU!”?
Eits, jangan buru-buru produksi dulu, Beautypreneur!
Punya ide produk yang menarik memang menjadi langkah awal untuk membangun sebuah brand. Tapi, ide yang terlihat bagus belum tentu benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.
Sebelum mengeluarkan modal untuk formulasi, kemasan, hingga produksi dalam jumlah besar, ada satu hal penting yang perlu dilakukan: memahami kebutuhan pasar.
Produk Bagus Belum Tentu Dicari Konsumen
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat membangun brand adalah terlalu fokus pada produk yang ingin dibuat tanpa terlebih dahulu memahami siapa yang akan membelinya.
Misalnya, kamu punya ide skincare dengan banyak kandungan aktif dan manfaat yang terlihat menarik. Secara konsep mungkin sangat bagus.
Tapi, apakah target market-mu memang sedang mencari produk tersebut?
Apakah mereka memiliki masalah kulit yang sesuai dengan konsep produkmu?
Dan yang tidak kalah penting, apakah mereka bersedia membayar untuk produk tersebut?
Karena pada akhirnya, produk yang keren belum tentu menjadi produk yang dicari.
Kenali Masalah Konsumen Sebelum Membuat Produk
Sebelum menentukan formula dan konsep produk, coba mulai dengan memahami masalah yang benar-benar dialami target market.
Beberapa pertanyaan yang bisa kamu gunakan:
Apa masalah kulit yang paling sering mereka alami?
Apa kebutuhan mereka yang belum terpenuhi?
Produk seperti apa yang sedang mereka cari?
Apa yang membuat mereka tertarik mencoba sebuah produk?
Berapa harga yang sesuai dengan kemampuan target market?
Apa alasan mereka memilih produk tertentu dibandingkan produk kompetitor?
Semakin jelas jawaban dari pertanyaan tersebut, semakin mudah kamu menentukan konsep produk yang relevan.
Tentukan Target Market dengan Jelas
Jangan membuat produk untuk “semua orang”.
Target market yang terlalu luas justru bisa membuat arah produk menjadi kurang jelas.
Misalnya, daripada hanya mengatakan:
“Skincare untuk semua wanita.”
Kamu bisa mempersempitnya menjadi:
“Skincare untuk perempuan usia 20–30 tahun dengan kulit berminyak yang membutuhkan produk ringan untuk penggunaan sehari-hari.”
Dengan target yang lebih spesifik, kamu bisa lebih mudah menentukan formula, tekstur, packaging, harga, hingga strategi komunikasinya.
Riset Pasar Bisa Membantu Mengurangi Risiko
Riset pasar bukan berarti harus selalu dilakukan dengan metode yang rumit.
Kamu bisa mulai dari hal sederhana seperti mengamati tren kebutuhan konsumen, membaca review produk kompetitor, melihat pertanyaan yang sering muncul di media sosial, melakukan survei sederhana, hingga berdiskusi langsung dengan calon konsumen.
Tujuannya bukan sekadar mencari produk yang sedang viral.
Yang lebih penting adalah menemukan kebutuhan yang nyata dan relevan dengan target market.
Karena tren bisa berubah, tetapi kebutuhan konsumen dapat menjadi dasar yang lebih kuat untuk mengembangkan produk.
Setelah Itu, Baru Masuk ke Tahap Pengembangan Produk
Setelah memahami target market dan kebutuhannya, ide tersebut bisa diterjemahkan menjadi konsep produk.
Mulai dari:
Target Market → Consumer Problem → Product Concept → Formula → Packaging → Positioning → Produksi
Di sinilah proses R&D menjadi penting.
Tim R&D dapat membantu mengembangkan formula berdasarkan konsep dan kebutuhan produk, kemudian melakukan proses pengembangan hingga menghasilkan sampel yang sesuai untuk dievaluasi.
Jadi, jangan hanya bertanya:
“Produk apa yang mau saya buat?”
Tetapi coba ubah menjadi:
“Masalah apa yang ingin saya bantu selesaikan melalui produk ini?”
Bangun Produk Berdasarkan Kebutuhan, Bukan Sekadar Feeling
Menjadi beautypreneur memang membutuhkan keberanian untuk memulai.
Namun, keberanian sebaiknya tetap diikuti dengan perencanaan.
Sebelum produksi, pastikan kamu sudah memahami siapa konsumennya, apa kebutuhannya, bagaimana konsep produknya, dan apa alasan mereka membutuhkan produk tersebut.
Karena produk yang kuat bukan hanya tentang formula yang menarik atau packaging yang cantik.
Produk yang kuat adalah produk yang memiliki alasan untuk dipilih oleh konsumennya.
Punya ide produk yang menurut kamu bakal laku?
Jangan langsung produksi.
Validasi dulu. Kembangkan dengan tepat. Baru produksi.
Bersama Eshbi Putra Indonesia, kamu bisa mengembangkan ide produk mulai dari konsultasi konsep, pengembangan formula bersama tim R&D, desain & packaging, legalitas, hingga proses produksi.
Dari ide menjadi produk siap jual, Eshbi siap mendampingi perjalanan brand-mu.
Dalam dunia skincare, day cream dan night cream adalah dua produk perawatan wajah yang sering digunakan setiap hari. Meski terlihat mirip, keduanya me...
Baca Selengkapnya >
OEM dan ODM adalah dua sistem produksi yang banyak digunakan oleh brand owner untuk memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik....
Baca Selengkapnya >