arj - 15 September 2026 - 10:22
arj
-
15 September 2026
-
10:22
Memulai brand kosmetik sendiri terdengar menarik, tetapi bagi banyak calon brand owner, pertanyaan pertamanya justru sama:
“Harus mulai dari mana?”
Haruskah mulai dari mencari produk? Menentukan formula? Membuat logo? Atau langsung mencari mitra maklon?
Di Maklon Dieshbi, kami sering menerima pertanyaan serupa dari calon brand owner yang baru ingin memulai bisnis kosmetik. Karena itu, kami merangkum roadmap sederhana yang bisa membantu kamu memahami prosesnya—mulai dari menemukan ide sampai produk siap dipasarkan.
Bukan sekadar tentang bagaimana membuat produk, tetapi bagaimana membangun brand dengan fondasi yang lebih terarah.
1. Tentukan Masalah yang Ingin Diselesaikan
Sebelum menentukan produk, coba mulai dari konsumennya.
Apa masalah yang ingin kamu bantu selesaikan?
Misalnya, kamu ingin membuat skincare untuk pemilik kulit sensitif, makeup praktis untuk perempuan aktif, atau body care yang memberikan pengalaman premium dengan harga yang tetap terjangkau.
Pertanyaan seperti ini akan membantu kamu menentukan arah produk dan membuat brand memiliki alasan yang jelas untuk hadir di pasar.
Di tahap ini, kamu bisa mulai dengan menjawab:
Semakin jelas jawabannya, semakin mudah langkah berikutnya.
2. Kenali Target Market
Salah satu fondasi penting dalam membangun brand adalah memahami siapa yang ingin kamu ajak bicara.
Jangan hanya berhenti pada demografi seperti usia dan jenis kelamin. Coba pahami juga gaya hidup, kebiasaan belanja, kebutuhan, preferensi produk, hingga kemampuan mereka dalam membeli.
Misalnya, kebutuhan mahasiswa tentu bisa berbeda dengan kebutuhan pekerja kantoran atau ibu muda.
Dengan memahami target market secara lebih spesifik, kamu bisa membuat produk dan komunikasi brand yang terasa lebih relevan.
3. Riset Kompetitor dan Pasar
Tidak perlu langsung melakukan riset yang rumit.
Mulailah dengan mengamati brand yang sudah ada di kategori yang ingin kamu masuki.
Perhatikan produk mereka, harga, klaim manfaat, kemasan, cara berkomunikasi, hingga review dari konsumennya.
Justru dari review konsumen, kamu bisa menemukan insight yang menarik.
Apa yang mereka sukai? Apa yang mereka keluhkan? Apa yang masih mereka cari?
Temuan tersebut dapat menjadi bahan untuk menentukan peluang dan diferensiasi brand kamu.
4. Tentukan Konsep dan Positioning Brand
Setelah memahami konsumen dan pasar, saatnya menentukan:
“Brand saya ingin dikenal sebagai apa?”
Positioning akan menjadi arah bagi banyak keputusan berikutnya—mulai dari produk, harga, kemasan, hingga strategi komunikasi.
Misalnya:
Tidak harus menjadi brand untuk semua orang.
Justru, brand yang memiliki target dan positioning yang jelas biasanya lebih mudah membangun identitas di pasar.
5. Validasi Ide Sebelum Produksi
Sudah punya konsep?
Jangan langsung produksi dalam jumlah besar.
Lakukan validasi terlebih dahulu.
Kamu bisa mulai dengan melakukan survei sederhana kepada calon konsumen, berdiskusi dengan target market, menguji konsep produk, atau melihat bagaimana respons audiens terhadap konten yang membahas masalah yang ingin kamu selesaikan.
Tujuannya sederhana: mencari tahu apakah ide tersebut memang memiliki potensi sebelum kamu mengeluarkan investasi yang lebih besar.
6. Kapan Waktu yang Tepat Menghubungi Maklon?
Setelah konsep brand mulai jelas, inilah saat yang tepat untuk berdiskusi dengan mitra maklon seperti Maklon Dieshbi.
Kamu tidak harus sudah mengetahui semua hal teknis mengenai formula atau proses produksi.
Justru, salah satu fungsi mitra maklon adalah membantu menerjemahkan ide brand menjadi konsep produk yang dapat dikembangkan.
Akan lebih baik jika saat berdiskusi kamu sudah memiliki gambaran mengenai:
Dengan brief tersebut, proses diskusi dan pengembangan produk dapat menjadi lebih terarah.
7. Kembangkan Produk Bersama Mitra Maklon
Di tahap ini, ide yang sebelumnya masih berupa konsep mulai diterjemahkan menjadi produk.
Bersama mitra maklon, kamu dapat mendiskusikan berbagai kebutuhan pengembangan produk, mulai dari karakteristik produk, konsep formula, kemasan, hingga kebutuhan produksi.
Ini juga menjadi tahap penting untuk memastikan produk yang dikembangkan tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga sesuai dengan target market dan arah bisnis yang sudah ditentukan.
8. Jangan Lupa Menghitung Sisi Bisnisnya
Sebelum masuk produksi, pastikan kamu sudah memahami perhitungan bisnisnya.
Harga produk bukan hanya soal biaya produksi.
Kamu juga perlu mempertimbangkan kemasan, desain, kebutuhan legalitas dan regulasi, pemasaran, distribusi, marketplace, sampling, serta biaya operasional lainnya.
Dengan perhitungan yang matang, kamu bisa menentukan harga jual dan strategi penjualan yang lebih realistis.
9. Produksi dan Mulai Bangun Brand
Setelah konsep, produk, dan perhitungan bisnis siap, proses produksi dapat dimulai.
Namun, produksi bukanlah akhir dari perjalanan.
Setelah produk jadi, kamu masih perlu memperkenalkan brand kepada pasar, membangun awareness, membuat konten, mendapatkan pelanggan pertama, mengumpulkan feedback, dan mengevaluasi performa produk.
Karena membangun brand kosmetik bukan hanya tentang membuat produk.
Ini tentang membangun sesuatu yang dipercaya dan dipilih oleh konsumen.
Jadi, Harus Mulai dari Mana?
Kalau kamu masih bingung, gunakan alur sederhana ini:
Masalah → Target Market → Riset Pasar → Positioning → Validasi → Konsep Produk → Diskusi Maklon → Pengembangan Produk → Perhitungan Bisnis → Produksi → Launching
Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk mulai.
Yang penting, kamu memiliki arah yang jelas dan partner yang bisa membantu menerjemahkan ide tersebut menjadi produk yang siap dikembangkan.
Maklon Dieshbi hadir untuk membantu calon brand owner memulai perjalanan tersebut dengan lebih terarah—dari ide, pengembangan produk, hingga proses produksi.
Karena setiap brand besar selalu dimulai dari satu hal sederhana:
sebuah ide yang kemudian dibuat menjadi nyata.
Dalam dunia skincare, day cream dan night cream adalah dua produk perawatan wajah yang sering digunakan setiap hari. Meski terlihat mirip, keduanya me...
Baca Selengkapnya >
OEM dan ODM adalah dua sistem produksi yang banyak digunakan oleh brand owner untuk memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik....
Baca Selengkapnya >