Jangan Sampai Salah Cetak! Checklist Kemasan Produk Sebelum Notifikasi BPOM

Jangan Sampai Salah Cetak! Checklist Kemasan Produk Sebelum Notifikasi BPOM

arj - 30 September 2026 - 09:22

Dalam proses pengembangan produk, kemasan sering dianggap sebagai tahap akhir sebelum produk diproduksi dan dipasarkan. Padahal, kemasan bukan hanya soal desain yang menarik secara visual. Informasi yang tercantum di dalamnya juga harus diperhatikan karena berkaitan dengan ketentuan regulasi dan proses notifikasi produk.

Urutan ingredient list yang tidak tepat, informasi wajib yang belum lengkap, hingga klaim produk yang ternyata tidak sesuai ketentuan bisa menjadi catatan dalam proses review. Akibatnya, proses persetujuan desain, produksi kemasan, bahkan peluncuran produk dapat ikut tertunda.

Karena itu, sebelum desain kemasan masuk ke tahap cetak, brand owner perlu melakukan pengecekan secara menyeluruh.

Mengapa Kemasan Produk Perlu Dicek Sebelum Dicetak?

Kemasan merupakan salah satu media utama untuk menyampaikan informasi produk kepada konsumen. Pada produk kosmetik, misalnya, informasi pada label perlu disusun dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Kesalahan kecil pada kemasan bisa menimbulkan masalah yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Bayangkan desain sudah selesai, kemasan sudah dipesan dalam jumlah besar, tetapi kemudian ditemukan informasi yang perlu diperbaiki. Jika perubahan tersebut mengharuskan artwork atau kemasan dicetak ulang, tentu akan menambah waktu dan biaya.

Inilah alasan mengapa proses quality check kemasan produk sebaiknya dilakukan sebelum artwork mendapatkan approval final.

1. Pastikan Ingredient List Sudah Benar

Salah satu bagian penting yang perlu diperiksa adalah ingredient list atau daftar bahan.

Ingredient list bukan sekadar daftar bahan yang ditempatkan di bagian belakang kemasan. Penulisan, nama bahan, dan urutannya perlu disesuaikan dengan formula produk serta ketentuan yang berlaku.

Jangan sampai formula yang sudah final justru memiliki daftar bahan pada artwork yang berbeda.

Beberapa hal yang perlu dicek antara lain:

  • Kesesuaian ingredient list dengan formula final.
  • Penulisan nama bahan secara tepat.
  • Urutan bahan sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Tidak ada bahan yang tertinggal atau salah tulis.
  • Konsistensi ingredient list antara kemasan primer, sekunder, dan dokumen produk.

Ingredient list yang salah dapat menjadi catatan dalam proses review, sehingga sebaiknya tidak dianggap sebagai detail kecil.

2. Jangan Asal Menulis Klaim Produk

Klaim menjadi bagian yang sangat menarik dari sebuah kemasan.

Kata-kata seperti brightening, anti-aging, acne care, whitening, repair, atau berbagai klaim manfaat lainnya dapat membantu mengkomunikasikan positioning produk.

Namun, tidak semua klaim dapat digunakan secara bebas.

Klaim pada kemasan harus diperhatikan agar sesuai dengan kategori produk, fungsi kosmetik, komposisi, serta ketentuan regulasi yang berlaku.

Jangan hanya berpikir:

“Klaim ini kan terdengar biasa.”

Justru kata atau kalimat sederhana pada kemasan bisa memiliki makna regulatori tertentu.

Karena itu, sebelum memasukkan klaim ke desain, lakukan pengecekan terlebih dahulu. Jangan sampai desain sudah final tetapi klaimnya perlu diubah setelah proses review.

3. Pastikan Informasi Wajib pada Label Sudah Lengkap

Selain ingredient list dan klaim, kemasan juga perlu memuat informasi yang diwajibkan sesuai kategori produknya.

Untuk produk kosmetik, misalnya, informasi pada label perlu diperiksa secara menyeluruh, termasuk informasi identitas produk, isi atau ukuran bersih, informasi pihak yang bertanggung jawab, cara penggunaan atau peringatan bila diperlukan, serta informasi lain sesuai ketentuan yang berlaku.

Checklist sederhana yang bisa digunakan sebelum artwork di-approve:

✓ Nama atau identitas produk
✓ Fungsi produk bila diperlukan
✓ Isi bersih
✓ Ingredient list
✓ Cara penggunaan
✓ Peringatan/perhatian jika dipersyaratkan
✓ Informasi produsen atau pihak yang bertanggung jawab
✓ Nomor notifikasi setelah diterbitkan
✓ Batch/lot dan informasi kedaluwarsa sesuai ketentuan
✓ Informasi lain yang diwajibkan berdasarkan kategori produk

Detailnya dapat berbeda tergantung jenis dan kategori produk. Karena itu, jangan menggunakan satu template kemasan untuk semua jenis produk tanpa melakukan pengecekan regulatori.

4. Cek Kesesuaian Desain dengan Produk yang Sebenarnya

Kesalahan kemasan tidak selalu berupa salah ketik.

Perbedaan antara isi kemasan dengan produk sebenarnya juga perlu diperhatikan.

Misalnya, nama produk pada artwork berbeda dengan dokumen produk, ukuran isi bersih tidak sesuai, atau deskripsi produk tidak menggambarkan fungsi yang sebenarnya.

Sebelum masuk tahap cetak, lakukan pengecekan silang antara:

Formula → Dokumen produk → Data regulatori → Artwork → Kemasan final

Semua elemen tersebut idealnya konsisten.

Dengan begitu, risiko revisi karena ketidaksesuaian informasi dapat diminimalkan.

5. Perhatikan Ukuran Tulisan dan Keterbacaan

Kemasan yang estetik memang penting. Namun, desain tidak boleh mengorbankan keterbacaan informasi.

Font yang terlalu kecil, kontras yang rendah, informasi yang terlalu padat, atau penempatan teks yang kurang jelas dapat membuat informasi penting sulit dibaca.

Desain kemasan sebaiknya mampu menggabungkan dua kebutuhan:

Menarik secara visual + jelas secara informasi.

Brand owner perlu memastikan informasi wajib tetap terbaca dengan baik pada ukuran kemasan sebenarnya, bukan hanya terlihat bagus ketika ditampilkan dalam mockup digital.

6. Jangan Lupa Cek Semua Sisi Kemasan

Kesalahan sering terjadi karena perhatian hanya tertuju pada bagian depan kemasan.

Padahal, informasi penting bisa berada di berbagai sisi.

Sebelum artwork di-approve, lakukan pengecekan berdasarkan panel:

Front panel
Periksa nama produk, positioning, fungsi, klaim utama, dan elemen branding.

Back panel
Periksa ingredient list, cara penggunaan, peringatan, informasi produsen, serta informasi lainnya.

Side panel
Periksa informasi tambahan, klaim, barcode, atau informasi lain yang diperlukan.

Bottom/top panel
Periksa area batch, tanggal kedaluwarsa, kode produksi, atau informasi teknis lainnya sesuai kebutuhan.

Dengan melakukan pengecekan per panel, kemungkinan informasi terlewat dapat dikurangi.

7. Jangan Cetak Sebelum Artwork Mendapat Approval Final

Ini adalah salah satu tahap yang sering dianggap sepele.

Ketika desain sudah terlihat bagus dan semua pihak merasa “sudah oke”, ada kecenderungan untuk langsung masuk proses cetak.

Padahal, sebelum cetak massal, pastikan artwork sudah mendapatkan final approval, terutama dari sisi regulatori dan kesesuaian dengan data produk.

Prinsip sederhananya:

Jangan buru-buru cetak. Pastikan dulu semua data benar.

Biaya melakukan pengecekan sebelum cetak tentu jauh lebih kecil dibandingkan risiko melakukan revisi setelah kemasan diproduksi dalam jumlah besar.

Checklist Final Kemasan Produk Sebelum Approval

Gunakan checklist berikut sebagai pemeriksaan terakhir:

Data Produk

  • Nama produk sudah sesuai.
  • Ukuran/isi bersih sudah benar.
  • Fungsi produk sudah sesuai.
  • Nama dan identitas brand sudah konsisten.

Ingredient List

  • Sesuai dengan formula final.
  • Nama bahan sudah benar.
  • Urutan ingredient sudah diperiksa.
  • Tidak ada bahan yang tertinggal.

Klaim

  • Klaim sesuai dengan fungsi produk.
  • Klaim sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Tidak menggunakan klaim yang berpotensi menimbulkan masalah regulatori.
  • Klaim pada semua materi kemasan konsisten.

Informasi Label

  • Informasi wajib sudah lengkap.
  • Cara penggunaan sudah sesuai.
  • Peringatan dicantumkan bila diperlukan.
  • Informasi pihak yang bertanggung jawab sudah benar.
  • Informasi batch/lot dan kedaluwarsa sudah dipersiapkan sesuai ketentuan.

Artwork

  • Tidak ada typo.
  • Ukuran tulisan mudah dibaca.
  • Informasi tidak terpotong.
  • Semua panel sudah diperiksa.
  • Barcode/QR code sudah dicek jika digunakan.
  • Artwork sudah mendapatkan approval final.

Kemasan Bukan Sekadar Desain

Kemasan memang menjadi wajah pertama sebuah produk. Tetapi untuk produk yang akan diedarkan secara resmi, kemasan juga merupakan bagian penting dari komunikasi informasi produk kepada konsumen.

Karena itu, desain yang menarik saja belum cukup.

Brand owner juga perlu memastikan bahwa informasi pada kemasan akurat, konsisten, mudah dibaca, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kesalahan seperti ingredient list yang tidak sesuai, klaim yang perlu direvisi, atau informasi wajib yang tertinggal mungkin terlihat kecil. Namun, detail tersebut dapat berdampak pada proses review dan timeline produksi.

Bersama Eshbi, Pengembangan Produk Bisa Lebih Terarah

Membangun produk sendiri tidak hanya berhenti pada formulasi dan produksi. Ada banyak detail yang perlu diperhatikan mulai dari pengembangan formula, desain dan packaging, legalitas, hingga produk siap dipasarkan.

PT. Eshbi Putra Indonesia hadir sebagai partner maklon all-in-one yang membantu brand owner melalui berbagai tahapan pengembangan produk.

Mulai dari riset dan formulasi produk, desain kemasan, proses legalitas, produksi, hingga pendampingan pengembangan produk, setiap tahap dapat dipersiapkan dengan lebih terarah.

Karena produk yang siap dipasarkan bukan hanya produk yang terlihat menarik, tetapi juga produk yang memiliki fondasi pengembangan dan informasi yang dipersiapkan dengan baik.

Punya konsep produk dan ingin mulai mengembangkannya?

Mulai langkahmu menjadi brand owner bersama Eshbi Putra Indonesia.

Berita Terpopuler

Perbedaan Day Cream dan Night Cream: Fungsi, Kandungan, dan Cara Pakai yang Benar
Perbedaan Day Cream dan Night Cream: Fungsi, Kandungan, dan Cara Pakai yang Benar

Dalam dunia skincare, day cream dan night cream adalah dua produk perawatan wajah yang sering digunakan setiap hari. Meski terlihat mirip, keduanya me...

Baca Selengkapnya >
OEM dan ODM: Pengertian, Perbedaan, dan Keuntungannya untuk Brand Owner
OEM dan ODM: Pengertian, Perbedaan, dan Keuntungannya untuk Brand Owner

OEM dan ODM adalah dua sistem produksi yang banyak digunakan oleh brand owner untuk memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik....

Baca Selengkapnya >