arj - 08 September 2026 - 15:29
arj
-
08 September 2026
-
15:29
Serum brightening masih menjadi salah satu kategori yang menarik di pasar skincare Indonesia. Namun, tingginya permintaan bukan berarti setiap serum brightening yang dibuat otomatis akan laku.
Justru karena kategorinya ramai, tantangan brand owner semakin besar.
Data Euromonitor menunjukkan bahwa facial care menjadi kategori terbesar dalam pasar skincare Indonesia, dengan konsumen banyak berfokus pada brightening, acne care, dan skin barrier repair.
Artinya, peluangnya memang besar. Tetapi kompetisinya juga semakin ketat.
Jadi, jangan asal bikin serum brightening hanya karena sedang tren. Pastikan produk yang dikembangkan benar-benar punya alasan untuk dipilih konsumen.
1. Serum Brightening Bukan Sekadar "Bikin Kulit Cerah"
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika mengembangkan produk skincare adalah menganggap brightening hanya berarti membuat kulit terlihat lebih putih.
Padahal, konsep brightening dapat diarahkan pada berbagai kebutuhan kulit, seperti:
BPOM juga menjelaskan bahwa istilah brightening dan whitening memiliki konsep dan pendekatan yang berbeda. Beberapa bahan aktif yang umum digunakan dalam produk brightening antara lain niacinamide, vitamin C, alpha-arbutin, dan tranexamic acid.
Jadi, sebelum menentukan formula, tentukan dulu masalah kulit apa yang ingin kamu selesaikan.
2. Kenali Siapa yang Akan Membeli Produkmu
Sebelum bertanya kepada formulator, "Mau pakai bahan aktif apa?", seharusnya brand owner bertanya:
"Siapa yang akan menggunakan produk ini?"
Karena kebutuhan setiap target market bisa berbeda.
Misalnya:
Gen Z & mahasiswa
Mungkin lebih tertarik pada produk yang:
Young professionals
Bisa lebih membutuhkan serum yang fokus pada:
Konsumen usia 30–40 tahun
Kebutuhannya bisa berkembang menjadi kombinasi:
brightening + anti-aging + hydration.
Inilah alasan mengapa membuat produk berdasarkan target konsumen jauh lebih strategis dibanding sekadar mengikuti bahan aktif yang sedang viral.
3. Konsumen Sekarang Semakin Memperhatikan Kandungan
Konsumen skincare semakin terbiasa membaca ingredient list dan mencari tahu manfaat bahan aktif sebelum membeli.
Bahkan, tren skincare 2026 semakin mengarah pada pendekatan ingredient-first, yaitu konsumen ingin mengetahui apa yang ada di dalam produk dan mengapa bahan tersebut digunakan.
Karena itu, jangan hanya menjual:
"Serum Brightening Super Glowing!"
Tetapi pikirkan bagaimana produk dapat mempunyai value proposition yang lebih jelas.
Contohnya:
Niacinamide + Brightening + Barrier Care
atau
Brightening + Hydration untuk Kulit Kusam
atau
Dark Spot Care + Skin Barrier Support
Tentunya, setiap klaim tetap harus disesuaikan dengan formula, bukti pendukung, dan ketentuan regulasi kosmetik yang berlaku.
4. Jangan Terjebak "Semakin Banyak Aktif, Semakin Bagus"
Kesalahan lain dalam membuat serum adalah memasukkan terlalu banyak bahan aktif hanya supaya terlihat lebih "canggih".
Padahal, formula yang baik bukan formula dengan daftar kandungan paling panjang.
Yang lebih penting adalah:
Apakah kombinasi bahan tersebut masuk akal untuk kebutuhan target market?
Misalnya, bahan seperti niacinamide, vitamin C, alpha-arbutin, dan tranexamic acid memang banyak digunakan dalam produk brightening.
Tetapi pemilihan bahan, kadar penggunaan, kompatibilitas formula, stabilitas, tekstur, packaging, hingga pengalaman penggunaan tetap perlu diperhitungkan dalam proses pengembangan.
Formula bukan sekadar kumpulan bahan aktif.
Formula adalah bagaimana berbagai komponen bekerja menjadi satu produk yang stabil, aman, nyaman, dan sesuai positioning.
5. Cari Celah di Market, Bukan Sekadar Ikut Market
Kalau sudah banyak brand menjual serum brightening dengan konsep yang sama, pertanyaannya bukan:
"Bagaimana saya membuat serum brightening juga?"
Tetapi:
"Apa yang bisa membuat serum saya berbeda?"
Coba lihat dari beberapa sisi:
Target market
Siapa konsumen yang belum dilayani dengan baik?
Skin concern
Masalah kulit apa yang paling relevan bagi mereka?
Texture
Apakah membutuhkan serum watery, gel, atau cream serum?
Benefits
Apakah fokus pada brightening saja atau dikombinasikan dengan hydration/barrier care?
Packaging
Apakah packaging mampu mendukung stabilitas formula dan positioning brand?
Price positioning
Apakah produk ditujukan untuk mass market, affordable premium, atau premium?
Brand story
Apa alasan konsumen harus memilih produkmu dibanding puluhan serum lainnya?
Dengan pendekatan ini, kamu tidak hanya menciptakan produk, tetapi membangun produk yang punya positioning.
6. Packaging Juga Harus Dipikirkan Sejak Awal
Serum brightening sering menggunakan bahan aktif yang perlu diperhatikan stabilitasnya.
Karena itu, pemilihan packaging sebaiknya tidak hanya berdasarkan desain yang terlihat menarik.
Pertimbangkan juga:
Sebuah studi mengenai serum brightening yang beredar di pasar menemukan bahwa botol kaca cukup dominan dan menyebut pertimbangan stabilitas bahan aktif sebagai salah satu faktor yang relevan dalam pemilihan kemasan.
Jadi, formula dan packaging sebaiknya dikembangkan sebagai satu kesatuan.
7. Lakukan Riset Kompetitor Sebelum Produksi
Sebelum masuk tahap produksi, lakukan market mapping sederhana.
Ambil 10–20 produk kompetitor dan bandingkan:
| Aspek | Yang Perlu Dianalisis |
|---|---|
| Harga | Harga jual rata-rata |
| Size | 15 ml, 20 ml, 30 ml, dll. |
| Klaim | Brightening, dark spot, glow, barrier |
| Ingredients | Aktif utama yang digunakan |
| Texture | Watery, gel, creamy |
| Packaging | Dropper, pump, tube |
| Target | Gen Z, wanita dewasa, pria, dll. |
| Review | Keluhan dan kelebihan konsumen |
| USP | Apa yang membuat produk berbeda |
Dari sini, kamu bisa menemukan gap market.
Misalnya ternyata sebagian besar kompetitor menjual serum brightening yang fokus pada glowing, tetapi konsumen justru banyak mengeluhkan kulit terasa kering atau sensitif.
Itu bisa menjadi insight untuk mengembangkan konsep:
Brightening + Hydrating + Barrier Care.
8. Jangan Membuat Produk Karena Viral, Buat Produk Karena Dibutuhkan
Tren bisa menjadi pintu masuk.
Tetapi kebutuhan konsumen adalah alasan produk bisa bertahan lebih lama.
Pasar skincare Indonesia sendiri terus berkembang dan semakin kompetitif. Data 2025 menunjukkan retail value penjualan skincare Indonesia mencapai sekitar Rp60,2 triliun, dengan facial care sekitar Rp51,8 triliun.
Besarnya market memang memberikan peluang.
Namun, semakin besar market, semakin banyak pula kompetitor yang masuk.
Karena itu, brand yang hanya mengikuti tren berisiko menjadi produk lain yang terlihat sama.
Sebaliknya, brand yang memahami target market, kebutuhan konsumen, formula, positioning, dan diferensiasi mempunyai peluang lebih besar untuk membangun produk yang relevan.
Dari Market Research ke Formula, Jangan Dibalik
Sebelum membuat serum brightening, idealnya prosesnya bukan:
"Ada tren niacinamide → bikin serum niacinamide."
Tetapi:
Market Research → Target Consumer → Skin Concern → Product Concept → Formula → Packaging → Testing → Regulatory → Production → Marketing
Dengan alur tersebut, produk yang dikembangkan memiliki dasar yang lebih kuat.
Karena pada akhirnya, konsumen tidak membeli daftar ingredients.
Mereka membeli solusi untuk kebutuhan kulit mereka.
Saatnya Bangun Serum Brightening yang Punya Alasan untuk Dipilih
Serum brightening memang masih memiliki peluang besar di pasar skincare Indonesia. Tetapi peluang tersebut tidak berarti brand bisa masuk hanya dengan membuat formula yang "mirip produk lain".
Market sudah ramai. Konsumen semakin kritis. Kompetitor semakin banyak.
Maka, sebelum memutuskan bahan aktif, kemasan, bahkan harga jual, pastikan kamu sudah tahu:
Siapa target market-mu?
Apa masalah kulit mereka?
Apa yang mereka cari?
Apa yang belum ditawarkan kompetitor?
Dan apa alasan mereka harus memilih produkmu?
Di sinilah proses R&D dan formulasi menjadi penting.
Bersama Eshbi, pengembangan produk dapat dimulai dari konsep dan kebutuhan brand, kemudian diarahkan ke proses formulasi dan pengembangan produk yang sesuai dengan positioning yang ingin dibangun.
Jangan sekadar membuat serum brightening.
Buat serum brightening yang memang punya market.
Dalam dunia skincare, day cream dan night cream adalah dua produk perawatan wajah yang sering digunakan setiap hari. Meski terlihat mirip, keduanya me...
Baca Selengkapnya >
OEM dan ODM adalah dua sistem produksi yang banyak digunakan oleh brand owner untuk memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik....
Baca Selengkapnya >