arj - 21 Agustus 2026 - 09:35
arj
-
21 Agustus 2026
-
09:35
Bayangkan kamu sebagai customer.
Ada dua brand baru yang menawarkan produk serupa.
Brand pertama hadir karena produknya sedang ramai di pasaran. Kemasan menarik, mengikuti tren, dan terlihat kekinian.
Brand kedua mungkin juga mengikuti tren, tetapi punya satu hal yang berbeda: produk tersebut dibuat untuk menjawab kebutuhan customer yang spesifik.
Kalau kamu yang menjadi customer, mana yang akan kamu pilih?
Kemungkinan besar, kamu akan lebih tertarik pada produk yang merasa “ini memang dibuat untuk kebutuhan aku.”
Karena di tengah banyaknya brand baru, customer semakin punya banyak pilihan. Mereka tidak hanya melihat produk dari kemasan atau seberapa viral sebuah ingredient.
Mereka mulai bertanya:
“Produk ini sebenarnya dibuat untuk siapa?”
“Masalah apa yang ingin diselesaikan?”
“Apa manfaat yang benar-benar bisa aku dapatkan?”
Jangan Jadikan Tren Sebagai Satu-Satunya Alasan Membuat Produk
Mengikuti tren memang bukan sesuatu yang salah.
Tren bisa menjadi peluang untuk melihat apa yang sedang diminati pasar. Namun, kalau satu-satunya alasan membuat produk adalah karena sedang viral, brand akan lebih mudah kehilangan arah ketika trennya berubah.
Hari ini satu ingredient populer.
Besok muncul ingredient baru.
Lalu customer berpindah ke tren berikutnya.
Karena itu, sebelum menentukan produk, penting untuk menggali lebih dalam:
Apa kebutuhan target market yang ingin kamu jawab?
Misalnya, bukan sekadar membuat serum karena serum sedang populer.
Tetapi memahami bahwa target market membutuhkan produk yang praktis untuk membantu menjaga kelembapan kulit, mendukung skin barrier, atau memenuhi kebutuhan skincare tertentu sesuai positioning produk.
Dengan begitu, produk memiliki alasan untuk hadir, bukan sekadar alasan untuk ikut ramai.
Produk yang Kuat Dimulai dari Masalah yang Jelas
Brand yang kuat biasanya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Produk apa yang sedang laku?”
Tetapi juga bertanya:
“Kebutuhan apa yang belum terjawab dengan baik?”
Dari sinilah ide produk bisa menjadi lebih terarah.
Mulai dari memahami target customer, masalah yang mereka hadapi, kebiasaan mereka, preferensi tekstur, ingredient yang relevan, hingga positioning produk.
Semakin jelas kebutuhan yang ingin dijawab, semakin mudah brand membangun produk yang memiliki nilai.
Jadi, Produk Pertamamu Mau Dibuat Karena Apa?
Kalau kamu sedang menyiapkan brand sendiri, jangan buru-buru bertanya:
“Produk apa yang sedang viral?”
Coba mulai dengan pertanyaan:
“Siapa yang ingin saya bantu?”
“Apa kebutuhan mereka?”
“Solusi seperti apa yang bisa saya tawarkan?”
Karena produk pertama bukan hanya tentang launching sesuatu ke pasar.
Produk pertama adalah kesempatan untuk memperkenalkan alasan kenapa brand kamu layak dipilih.
Dan ketika produk dibuat dengan alasan yang kuat, kamu tidak hanya menjual produk.
Kamu sedang membangun kepercayaan.
Mulai dari Ide, Bukan Sekadar Ikut Tren
Di Eshbi Putra Indonesia, ide produk dapat dikembangkan bersama melalui proses formulasi dan pengembangan produk yang disesuaikan dengan konsep serta target market brand.
Karena membuat brand bukan sekadar tentang “apa yang sedang viral?”
Tetapi tentang:
“Produk apa yang benar-benar ingin saya hadirkan untuk customer?”
Temukan alasan kuat di balik produkmu. Lalu mulai bangun brand yang punya nilai, bukan sekadar mengikuti tren.
Dalam dunia skincare, day cream dan night cream adalah dua produk perawatan wajah yang sering digunakan setiap hari. Meski terlihat mirip, keduanya me...
Baca Selengkapnya >
OEM dan ODM adalah dua sistem produksi yang banyak digunakan oleh brand owner untuk memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik....
Baca Selengkapnya >